Adv 1
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Prinsip-prinsip Seorang Muslim Dalam Menjalankan Pekerjaannya

Prinsip-prinsip Seorang Muslim Dalam Menjalankan Pekerjaannya

Islam mendorong umatnya untuk terus melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih maju, baik dari segi lahiri maupun batini. Hendaknya perubahan tersebut berakar dari masing-masing individu dan kemudian mengarah kepada perubahan masyarakat dan umat. 

Di sisi lain kemiskinan merupakan kenyataan yang tak terhindarkan di negara ini. kondisi yang berpotensi menghambat terwujudnya kesejahteraan secara lahiriyah. Karena itu Islam mewajibkan setiap muslim untuk berpartisipasi menanggulangi kemiskinan sesuai dengan kemampuannya. Anjuran itu berlaku juga bagi seseorang yang tidak mempunyai kemampuan materi, yaitu dengan menyumbangkan pemikiran dan simpatinya. Bahkan al-Quran mengecam dengan pedas orang-orang yang tidak berpartisipasi dalam pengentasan kemiskinan sebagai kelompok yang mendustakan agama (QS. Al-Ma'un:1-3).

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ   فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ   وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Apakah engkau melihat orang yang mendustakan catatan kehidupan (agama)? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

Dalam diri manusia terdapat dua naluri yaitu naluri seksual dan naluri kepemilikan. Naluri kepemilikan akan mendorong manusia untuk bekerja dan berusaha. Bagi Islam, segala macam pekerjaan dan usaha yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam adalah terpuji. Sebaliknya, pengangguran dan ketidak telitian dalam pekerjaan merupakan kondisi yang sangat tercela dan perlu mendapat kecaman. Dalam satu hadist disebutkan bahwa:


ان الله يحب عبده اذا عمل اتقن في عمله

Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang teliti dalam pekerjaanya.

Etos kerja yang dilandasi visi dapat mengarahkan gerakan ekonomi rakyat pada satu tujuan, yaitu kemakmuran yang dinikmati oleh secara merata. Hal ini penting mengingat sistem ekonomi sekarang ini telah melahirkan kelompok kecil yang menguasai aktivitas perekonomian dunia dari hulu sampai hilir serta di sisi lain ketidakmampuannya  mengangkat kelompok besar masyarakat dunia untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Realitasnya, masyarakat Indonesia yang miskin berada di dalam negara yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah adalah merupakan hal yang sangat memperhatikan.

Hal ini sangat bertentangan dengan tuntuanan al-Quran yang selalu menyerukan tatanan masyarakat yang etis dan egalitarian. Maka Islam sangat menentang ketidakadilan sosial terjadi di tengah masyarakat. 

Dalam sejarahnya, Nabi Muhammad SAW mempunyai langkah strategis dalam upaya menghindarkan umat dari ketidak adilan sosial. Beliau SAW pernah menolak memberikan bantuan keuangan kepada seseorang yang terlihat mampu bekerja dan justru beliau memberi alat bekerja agar digunakan untuk bekerja keras. 

Memang harus diakui bahwa solidaritas sosial tidak dapat menyelesaikan persoalan kemiskinan secara tuntas. Namun yang terpenting di sini menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial terhadap masing-masing individu, terutama bagi mereka yang mempunyai kemampuan materi yang berlebih. Karena itu perlu ada penetapan hak dan kewajiban bagi kelas menengah ke atas sehingga muncul kesadaran tanggung jawab sosial untuk menciptakan keadilan kesejahteraan di tengah masyarakat. dalam konteks ini Islam mengajarkan konsep zakat yang merupakan hak delapan kelompok yang ditetapkan maupun melalui sedekah wajib yang merupakan hak bagi yang membutuhkan bantuan. 

Untuk meraih cita-cita diatas dengan meningkatkan etos kerja dalam setiap pekerjaan kita perlu memperhatikan beberapa konsep Islam, diantarantya Al-Kafaah wa at-Ta’ahhul yaitu proprosinal dan profesinal

Dalam melakukan setiap pekerjaan hendaknya kita harus memperhatikan pekerjaan yang kita lakukan apakah kita sudah cocok, baik dan mampu untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Dan juga apakan kita sudah profesional dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. 

Selanjutnya Al-Infitah yaitu trasparansi dalam setiap perkejaan. Dengan trasparansi kita dapat menerima banyak masukan dan kritikan yang membangun dari kekurangan kita untuk kita perbaiki lagi ke arah yang lebih baik. 

Kemudian At Ta’awun alal Birri wa Taqwa yaitu membangun kemitraan yang posistif dan solid. Karena dengan kemitraan yang baik  dan kesolitan kita akan dapat dengan mudah menyelesaikan segala persoalan yang menghadang. 

Dan terakhir Al-Mas’uliyah yaitu bertanggung jawab. Setelah kita menerapkan tiga hal di atas kita juga harus siap bertanggung jawab atas hasil dari pekerjaan yang kita lakukan.  



Ust. H.Ulil A. Hadrawiy
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger