Didalam batin kita ternyata ada khasanah yang agung melebihi kebesaran
Jagad Semesta. Kita bisa melihatnya, bukan dengan mata kepala, tetapi dengan
matahati kita. Apa yang tampak dalam wujud fisik kita hanyalah lambang belaka
dari hakikat yang ada didalam dada.
Jika saja ada anatomi batin, tentu saja ada penglihatan, rasa dan
pendengaran batin, bahkan ada Ibadah-ibadah yang mesti dilakukan oleh batin
kita, sebagaimana keharusan yang dilakukan oleh gerak-gerik fisik kita.
Kalau kita merasa bersedih, dimanakah tempat bersedih? Kalau kita
bergembira, dimanakah tempat kegembiraan itu? Kalau kita sedang mencintai,
dimanakah tempatnya cinta? Kalau kita sedang rindu dimanakah rindu itu
sesungguhnya? Kalau kita sedang menikmati, dimanakah wilayah nikmat dalam
batin kita?
Allah memiliki Sebuah Nama yang disebut dengan Al-Baathin (Yang Maha Batin),
lalu apa hubungannya dengan nuansa batiniyah dan lahiriyah kita?
Bagaimana batin kita bisa merasakah gelap dan terang?
Ada apa dengan batin kita? Tiba-tiba kita menanyakan sesuatu yang
selalu hadir, tetapi terasa misterius, dan sehari-hari, terkadang kita biarkan
mengalir dengan sendirinya, tanpa kita berhasrat untuk mengusik lebih jauh.
Tetapi siapa yang bisa membendung kerinduan batin itu sendiri untuk hadir
dalam penyaksian jiwa kita, dan mengenal Sang Penggerak Batin, Yang Maha
Al-Bathin, Allah Ta’ala?
Ketika waktu menembus tengah malam, kita seperti sedang mengembara di
jagad semesta. Di balik jubah hitam yang menyelimuti semesta itu, tanpa terasa
kita telah menggapai satu bintang ke bintang lainnya. Tetapi kita tidak pernah
menjenguk diri kita, apa dan siapa yang tadi mengembara ke cakrawala malam itu?
Mengapa sebegitu mudah, seakan-akan seluruh cakrawala itu ada di genggaman
kita? Apakah seluruh benda-benda di langit, di bumi dan bahkan makhluk-makhluk
Allah di langit itu memiliki hubungan erat dengan diri kita?
Mari kita ketuk pintu batin kita, untuk sekadar membuka hakikat-hakikat
dibalik misteri perjalanan hidup kita, lalu kita teguhkan keyakinan-keyakinan
kita, yang selama ini naik turun diantara lembah-lembah ngarai, puncak-puncak
bukit dan jurang-jurang kehidupan. Lalu muncul adalah perasaan suka dan duka,
sedih dan bahagia, bahkan keharuan-keharuan yang tak terhingga, bahkan
berlanjut dengan sejuta pertanyaan yang memburu kita. Kita mulai memasuki fakta
dan hakikat sesungguhnya, kebenaran-kebenaran yang tidak hanya kita pandang
dari sudut dan bilik-bilik pemikiran kita, tetapi sudah mulai menampkkan
bayang-bayang, sampai pada titik tertentu, adalah gambaran sesungguhnya tentang
kita, diri kita, hakikat kita.
Dalam ruang dalam di dada kita (limaa fish shuduur) ternyata ada kehidupan
yang sesungguhnya. Di ruang tengah ada jantung , yang terletak di sisi dada
kiri kita, dan itulah yang disebut Qalbu. Dunia Qalbu adalah sentra dari
seluruh aktivitas batin kita, yang secara organik termekanis oleh gerak gerik
batin kita. Dan Qalbu lah yang memutuskan untuk menerima atau menolak.
Al-Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazaly secara cemerlang membedah anatomi
batin kita dalam kitabnya Al-Ihya’, dengan uraian yang begitu sistematis,
menggambarkan organisasi batin ini. Sebab jauh-jauh Rasulullah SAW, telah
mengisyaratkan adanya “segumpal darah” yang sangat menentukan kebaikan dan
keburukan kita. Al-Ghazali membagi sudut utama batin menjadi Qalbu, Ruh, Nafsu
dan Akal. Sementara Syeikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Araby, membuat klasifikasi,
dengan, Al-Fikr, Al-‘Aql, Al-Fu’ad dan Al-Lubb.
Qalbu itulah yang dikatakan sebagai Hakikat Manusia. Hakikat yang terus
menerus bergerak mengatur organisme ruhaninya. Dan karenanya, Qalbu
disebut sebagai Lathifah Rabbaniyah, yang mengenal dimensi Ketuhanan, sebab
Allah berada diantara person dan qalbunya.
Qalbu yang sesungguhnya bermakna berbolak balik, karena fungsi qalbu itu
sendiri yang senantiasa menjadi fokus tarik menarik antara Ruh dan Nafsu kita.
Ruh yang terus menerus menghembuskan nafas kebajikan menuju kepada Allah,
sementara Nafsu mencemarkan dengan udara kotor yang menyeret Qalbu agar
berbuat jahat, buruk dan destruktif, melalui kebinatangan nafsu dan
kebuasannya. Di sela-sela tarik-menarik itulah syetan memasuki ruang dalam
bilik-bilik peredaran darah yang mengaliri seluruh diri kita.
Qalbu itulah yang kelak disebut sebagai Arasy, atau cermin dari Arasy Ilahi.
Dan sebab itu, dalam Hadits Nabi Saw, dikatakan, “Qalbu seorang
Mukmin adalah Arasy Allah.” Istana Ilahi yang ada dalam diri kita. Jika dada
spiritual kita disebut Al-Kursi, maka Qalbu adalah Arasy nya. Seluruh wilayah
di dalam dada akan diorganisir menurut perintah Qalbu. Qalbu yang dipenuh
cahaya CintaNya, sehingga sang hamba memenuhi ruang qalbu dengan mencintaiNya,
adalah Qalbu para Auliya’Nya.
KHM Luqman Hakim

Posting Komentar