Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Gue Anak Jendral

Gue Anak Jendral


Salah satu kecenderungan anak yang masih dalam usia remaja adalahmembangga-banggakan kebesaran orang tua, kakek-neneknya, dan orang-orang yang ada hubungan keluarga dengannya. Ini bisa dimengerti karena tidak banyak anak-anak yang dalam usia remaja itu mampu menegaskan jati diri dan eksistensinya lewat prestasi dan keberhasilan yang diraihnya. Dari kalangan mereka, tidak sedikit juga yang mampu meraih prestasi dan keberhasilan, sehingga jati diri dan eksistensi mereka pun diakui oleh publik. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang dapat memberikan sumbang sih bagi keharuman nama bangsa dan negara. Ke arah inilah, seharusnya kaum remaja bangsa inidiarahkan.

Tidak bisa dipungkiri, dalam kecenderungan kaum remaja yang masih labil dan belum bisa eksis untuk menopang kehidupannya sendiri, lahirlah para generasi remaja yang suka mengandalkan orang tua mereka ataupun orang-orang lain yang ada hubungan keluarga dan kekerabatan dengan mereka. Bila terbelit oleh suatu masalah, biasanya mereka mengandalkan orang tua dan orang-orang lain yang dianggap bisa melindunginya. Bahkan tak jarang, remaja-remaja yang mempunyai karakter semacam itu suka mempergunakan "nama besar" orang

tua ataupun orang lain yang ada hubungan keluarga dan kekerabatan dengannya untuk mendomniasi kelompok remaja yang lain. "Awas, belum tahu lu siapa bokap gue!", begitu salah satu ungkapan yang biasa dilontarkan oleh "remaja tak berkarakter" untuk mengancam remaja lain yang terlibat "clash" dengannya.

Tidak mengherankan jika dalam dunia remaja pun sering ditemukan istilah-istilah seperti: "Anak Mama", "Anak Papa", "Anak Jendral", "Anak Gedongan", dan seterusnya. Semua sebutan itu diperuntukkan bagi remaja-remaja tertentu yang tidak mampu menunjukkan jati diri dan eksistensinya sendiri, namun selalu membanggakan orang-orang tertentu dari kalangan keluarga dan kerabatnya. Dalam konteks ini, pemilih lebih suka memilih term "Anak Jendral" untuk menyebut mereka (para remaja) yang mempunyai karakter semacam itu.

Islam sangat menghargai prestasi seseorang. Islam menegaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya, dan takwa adalah bagian dari prestasi seseorang. Dalam banyak ayat, Al-Qur'an juga menegaskan bahwa orang-orang yang beriman dan mengerjakan berbagai perbuatan baik akan mendapatkan pahala yang mulia di sisi-Nya, tidak peduli siapa pun dan dari golongan manapun. Singkatnya, Islam mengahrgai seseorang berdasarkan usaha, perbuatan, dan prestasi yang dilakukannya secara mandiri, bukan karena prestasi dan kebesaran keluarga, kerabat, ataupun orang lain. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman, Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh (berbuat baik), tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala (balasan perbuatan baik) orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik. (Q.S Al-kahfi: 30). Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh (berbuat baik), maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan kami titihkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami". (Q.S Al-Kahfi: 88). Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S An-Nahl: 97).
 
Dalam ketiga ayat di atas, Allah menegaskan, siapa pun yang beriman dan melakukan amal saleh (perbuatan baik), niscaya Allah akan memberikan balasan yang mulia atas perbuatan baik yang dilakukannya, tidak peduli siapapun dan dari mana pun ia berasal. Ditegaskan oleh
Allah bahwa si pelaku akan mendapat apresiasi dan balasan baik dari-Nya atas perbuatan baik yang dilakukannya.

Orang sering mengasumsikan bahwa amal saleh adalah segala perbuatan yang berkaitan dengan ibadah "mahdha" saja, misalnya shalat, zakat, puasa, haji, bersedekah dan seterusnya. Padahal amal saleh adalah seluruh perbuatan baik yang dapat memberikan nilai manfaat, minimal bagi pelakunya sendiri, terutama bagi masyarakat luas. 

Dengan demikian amal saleh (perbuatan baik) adalah suatu prestasi, karena ia lahir dari kemauan, tindakan, dan kerja langsung dari pelakunya untuk kemaslahatan (kebaikan) dirinya dan orang lain. Allah sangat menghargai prestasi seseorang, karena apapun prestasi yang ditorehkan seseorang akan mendapat balasan di dunia dan akhirat.

Contoh balasan yang diberikan Allah dalam kehidupan dunia ini adalah orang yang belajar giat dan berusaha keras, pasti akan mendapat gelar dan pekerjaan yang layak. Seorang sarjan tentu akan memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan terhormat dibandingkan dengan orang yang hanya mengeyam pendidikan SD. Itu adalah bagian (apresiasi dan balasan) Allah terhadap orang-orang yang melakukan amal saleh (perbuatan baik).

Jadi, Allah sangat menghargai prestasi. Karena Allah memerintahkan agar setiap orang mempunyai prestasi, berdasarkan besar dan kecilnya prestasi yang diraih seseorang. Allah menegaskan, tidaklah sama orang yang berbuat, bekerja keras, dan mampu meraih prestasi.
Dalam Al-Qur'an, Allah memberikan contoh dengan penegasannya bahwa tidaklah sama orang yang hanya duduk dan berpangku tangang saja dengan orang yang mau berbuat dan berjihad di jalan-nya (Q.S An-Nisa: 95). 

Dalam konteks kehidupan remaja, pola hidup "Gue anak jendral" ataupun "gue anak...", yaitu pola hidup membanggakan dan berlindung di balik kebesaran orang lain, jelas merupakan pola hidup yang sangat tidak terpuji. Karenanya harus ditanamkan dalam setiap diri kaum remaja bahwa kebanggaan adalah kebanggaan diri sendiri saat mampu meraih prestasi dan nilai guna bagiorang lain. 

Kebanggaan tidak dapat diperoleh hanya dengan berlindung di balik kebesaran orang lain, tetapi kebanggaan akan terasa nikmat bila bersumber dari buah karya dan prestasi diri sendiri. Allah tidak menilai seseorang berdasarkan keturunan, kekayaan, dan keelokan fisik. Allah menilai seseorang berdasarkan baik tidaknya hati dan perbuatan (prestasinya).



Ust. Jefri Al Bukhari
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger