Negeri
ini sebetulnya memiliki banyak calon pemimpin, namun untuk mencari profil
pemimpin yang adil saat ini jauh dari harapan. Tetapi kita tidak boleh putus
asa. Kita wajib berusaha semaksimal mungkin. Untuk memilih siapa wakil kita dan
siapa pemimpin kita.
Saat ini, rakyat Indonesia tengah sibuk mempersiapkan pemilihan umum untuk
menentukan siapa wakil-wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat, baik ditingkat
Pusat, Propinsi maupun ditingkat kabupaten/kodya, maupun wakil-wakilnya yang
akan duduk di MPR, DPR dan DPD. Setelah itu kemudian akan memilih Presiden dan
wakil presiden. Merekalah orang-orang yang akan kita pilih untuk memimpin
negeri ini. Banyak pendapat dikalangan masyarakat kita, bahwa seorang pemimpin
harus begini, harus begitu. Sebagai seorang muslim marilah kita coba tengok
sejarah mengenai para pemimpin negeri ini, dan para pemimpin dunia yang
terdahulu. Dan Islam telah mengajarkan pada kita sejak 14 abad yang lalu,
bagaimana sebaiknya memilih seorang pemimpin.
Sejarah telah menunjukkan kepada kita, munculnya pemimpin-pemimpin dunia yang
telah berhasil memimpin rakyatnya. Dan kita telah ditunjukkan bagaimana
kepemimpinan Rasulullah SAW. dalam memimpin umat Islam. Umat Islam juga pernah
dipimpin para khalifah, sejak jaman Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin Khathab,
Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sebagainya. Diantara para pemimpin
itu Nabi Muhammad-lah yang pantas kita jadikan contoh seorang pemimpin.
Bagaimana tidak? Hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari 25 tahun beliau mampu
mengubah jaman kegelapan menjadi terang. Dalam waktu singkat itu beliau mampu
mendidik generasi yang akhirnya menelan dua “Super Power” saat itu, yaitu
Imperium Romawi dan Kekaisaran Persia.
Apa yang menjadi kesuksesan Nabi Muhammad SAW. memimpin saat itu? Jawabannya
adalah keteladanan. Pada diri Rasulullah itu ada satu keteladanan yang baik.
لقد كان لكم في رسول الله اسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الاخر وذكر الله كثير(Q.S 33:21).
Perkataan beliau merupakan wahyu Allah
اِنْ هُوَ اِلاَّ وَحْيٌ يُّوْحى ( Q.S. 53:4).
Selain itu juga sikap beliau yang demokratis. Beliau memerhatikan dan
merealisasikan saran-saran dari para sahabat, seperti pada saat menjelang
perang Khandaq, beliau perhatikan saran sahabat untuk membuat parit di Kota
Madinah. Beliau juga mendengarkan saran sahabat melakukan adzan sebagai
panggilan sholat.
Tapi di sisi lain, Rasulullah juga bersikap tegas. Apa yang telah menjadi
keputusannya dan diyakini kebenarannya, beliau tak goyah walau dikritik para
sahabatnya. Seperti pada saat perjanjian Hudaibiyah. Hal itu menunjukkan
karakter seorang pemimpin yang dimiliki Rasulullah, dan kemudian diikuti oleh
para sahabatnya, seperti Abu Bakar ash-Shidiq, dengan sikap tegasnya, walau
kualitas kepemimpinannya berbeda dengan Rasulullah SAW.
Semua pemimpin Islam yang sukses mempunyai karakteristik yang sesuai
karakteristik kepemimpinan Rasulullah, meskipun mungkin tidak sama persis 100%.
Setiap spesifik karakter kepemimpinan pada diri seperti Khulafaur Rasyidin,
Umar bin Abdul Aziz, ataupun Harun al Rasyid, sudah ada pada Rasulullah. Dengan
demikian dapat dikatakan, pada diri Rasulullah terakumulasi karakteristik
pemimpin yang sukses.
Tentunya untuk saat ini, tidak mudah bagi kita untuk memilih seorang pemimpin
seperti Rasulullah SAW. Tapi paling tidak kita bisa memilih pemimpin yang
banyak meneladani sifat dan karakter kepemimpinan Rasulullah.
Immasjid

Posting Komentar